Di Balik Gerbang Baja PT. Krakatau Steel

November 12, 2010 § 8 Comments

Dan kisah kami pun berlanjut bung.

Dengar ceritaku dan simaklah dengan seksama, mungkin pun kita dapat memetik suatu buah hikmah darinya. Intine baca tekan akhir yo boy, ana foto-fotone lho yo an.😀

Hari pertama di pabrik. Divisi Cold Rolling Mill. Dingin, Menggelinding, Penggilingan. Nama yang cukup suram bukan boy? Apalagi ada embel-embel Continuous Tandem Coiling Mill. olala. Jangan lupa basmalah bung.

Mencekam, semua asing, tak ada yang kenal, tak ada yang menyapa, sendiri, berbeda. “Pasti mereka pengganggu kelas teri”, pikir orang-orang berseragam yang menjaga entry gate kastil besi itu. Semua mata sinis melihat empat bocah asing dengan jaket warna karung goni bermerek ‘Kopma UGM’ di kerah bagian belakangnya. Untung tidak made in China, bisa-bisa dikira kami adalah limbah besi hasil selundupan negara tetangga.

Tapi tidak semua yang kamu dengar itu bener.

Di Dalam Pintu Gerbang Baja PT. Krakatau Steel – “Steel as National Power!”

Karena hari pertama KP adalah satu dari hari-hari aneh di hidupmu itu. Hari dimana was-was, antusias, senang, dan sejuta rasa aneh lainnya bercampur jadi satu, apalagi kalau kita pakai taxi (lho?)

Iya, kami pakai taxi ke hari KP pertama kami, hebat kan bung? Kami naik taxi hingga argo jahat itu menembus angka 110000, bisa direplay bos, seratus sepuluh ribu. Padahal, bayangkan, jarak kos kami ke pintu masuk area industry itu adalah hanya satu kilometer. Di mulut pemuda ini tertahan berbagai macam kosa kata terlarang yang siap meletup seperti awan panas Merapi dan keingingan mengeja semua nama binatang di Gembira loka yang berkaki empat, namun kemudian kami ingat pesan seorang sahabat, “sabar siap senyum semangat”, maka kembali tenanglah badai dalam batin ini (halah). Inilah nasib anak desa yang mengadu nasib ke kota industri di pojok Pulau Jawa, bung. Tidak tahu menahu arah dan lokasi kerja praktek mereka sendiri. Bahkan GPS integrated di kantong almamater kami kurang mampu membantu, payah tenin. Ngene ki, calon sarjana kalah karo sopir taxi. aaaaahhhh

Kesan pertama di pintu gerbang kerajaan baja Krakatau ini adalah ‘wow, pelanggaran boy..’

Hebat memang manusia itu, bisa membangun pabrik-pabrik megah di muka bumi Allah ini.

Kami dapat bagian lokasi KP di CRM CTCM. Sebuah pabrik yang membuat dan memproses… ..ehhh…. apa kami juga belum tahu, ini hari pertama, bung. Mohon dipersorry apabila kami banyak radong timbang dong e. (setelah ditelusur pabrik ini membuat gulungan besi baja tipis dan semacamnya). Kami mendapat bimbingan dari banyak karyawan disana, dengan instruksi khusus dari superintendent divisi pabrik tersebut yang bernama Bapak Sarwono. Beliau adalah seorang ramah dengan sebuah bilik kantor berkapasitas seorang petinggi pabrik dengan dua kursi tamu, dengan mahkota rambut yang mayoritas penduduknya berwarna perak, dan sepertinya baru mau memasuki umur setengah abad. Baju seragam navy jeans dengan emblem Krakatau Steel milik beliau yang sudah luntur warnanya memberitakan sudah lamanya beliau menjadi seorang jawara di pabrik itu. Tapi ketok e bapake apikan.

Inilah semacamnya percakapan pertama kami dengan beliau;

Pak Sarwono : “saya sebenarnya juga alumni UGM”

Anak Muda: “oh ya, Pak?”

Pak Sarwono: “tapi saya di Instrumentasi.”

Anak Muda: “ wah, sama dong pak ” *ekspresi wajah wajar*

Pak Sarwono: “ instrumentasinya tapi yang di MIPA.”

Anak Muda: “ ha? ” *ekspresi mulai aneh* “ jangan-jangan… “

Pak Sarwono: “ kalian dari mana? ”

Anak Muda: “ elekronika instrumentasi Pak, fakultas MIPA”

Pak Sarwono: “ oh, sama ya?”

Anak Muda: “ haha, iya Pak.” *ternyata🙂 *

Pak Sarwono: “ dosennya siapa? Pak Pekik itu masih di sana?”

Anak Muda: “masih, Wakil Dekan MIPA Pak..”

Pak Sarwono: “ ada dosen yang namanya Jazi? ”

Anak Muda: “ Pak Jazi? Sekarang sedang di Inggris, Ketua Jurusan, Pak”

Pak Sarwono: “ Pak Ashari? Orangnya kecil itu? Temen saya itu.”

Anak Muda: “hoo.. kepala Lab, Pak..”

Pak Sarwono: “ Pak Widodo yang di puskom itu? ”

Anak Muda: “ha? Iya pak, kenal, ngajar kami juga..”

Pak Sarwono: “ dosen pembimbing saya itu. haha”

Anak Muda: *mulut berbusa*

Dunia itu sempit, bung. Atau memang Yang Maha Esa gemar mempertemukan sesama hamba-hambanya dalam suatu jaringan benang merah yang tak kasat mata. Terserah Anda menerjemahkannya bagaimana.🙂

Lembar Fakta | Bedanya Kuliah dan Lapangan😮

Kami dibagi menjadi tua tim, Edwin dan Dimas sebagai tim Alpha, lalu Arul dan Jihad sebagai tim Bravo. Tim Alpha akan ditangani oleh pembimbing bernama Pak Nanang dan Pak Irsal, diarahkan ke Instrumentasi. Adapun Bravo dibawa ke divisi Elektrik CTCM dengan supervisor Pak Abdul Rofik dan Pak Puguh, lulusan Elektro, yang mengarahkan bimbingan ke Sistem Kontrol. Apapun arah bimbingan, kami bisa pastikan kepada pemirsa sekalian bahwa semuanya sangat menarik, semua baru, semua nyambung, semuanya asik, bung.

Dongeng ini kemudian berfokus pun pada kedua lakon kita di tim Bravo, Arif Akbarul Huda atau yang kerap dipanggil Mas Arul, dan Jihad Lupian Ardhi dengan nama samaran Kak Jihad. Kisah mereka dimulai dengan pertemuan perdana mereka dengan para supervisor divisi elektrik CTCM tadi, Pak Rofik dan Pak Puguh. Keduanya mengenyam pendidikan dahulu di ITS Surabaya, keduanya berkompeten pada mesin-mesin-mesin elektro-mekanikal buatan Perancis, Italia, dan Jerman di plant CRM-CTCM itu, bertahun-tahun mereka menghadapi desis dan dengung dari kotak baja bertulisan Siemens, VAI Clecim, National Instruments, CGEE Alsthom, dan segala merek asing dan aneh yang belum pernah menjamah kuping kedua lakon kita, Mas Arul dan Kak Jihad.

FAKTA! Ternyata tidak benar bila semua yang diajarkan di kuliah itu tidak terpakai sama sekali, atau yang lebih ekstrem, terpakai semua. Faktanya adalah, bung, ada yang terpakai dan ada yang tidak. Dalam kasus tim Bravo, hari pertama di lapangan diisi dengan tur ruang PLC dengan mesin-mesin kontrol sebesar lemari. Ruangane adem bung, tak seperti seluruh kota baja ini yang panasnya ya ampun. Proposal Bravo mengajukan tema tentang struktur dan manajemen jaringan computer di instalasi yang ada di PT. Krakatau Steel, namun berhubung di instalasi dimana mereka ditempatkan tidak ada jaringan computer yang cukup kompleks dan cukup bahan bahasan untuk dijadikan laporan KP, maka berbanting-stir lah Mas Arul dan Kak Jihad.

Ada dua kemungkinan untuk dijadikan inti fokus baru pada Kerja Praktek mereka. Satu, tetap mengusung jaringan namun yang terkait dengan PLC (programmable logic controller), atau kembali ke bidang asal mereka yaitu Elektronika dan Instrumentasi. Yuk mari kita ulas opsi-opsi tadi satu per satu.

Opsi pertama, bung. Jaringan PLC.

Kedua anak muda Tim Bravo dijelaskan dan diajak Pak Rofik mengelilingi ruang-ruang control dan PLC yang ada di sana. Sumpah aku radong tenan seng diomongke bapake. Maaf Pak, aku radong, aku bingung, aku pas kuliah ana seng jenenge sinau PLC tapi ampun Pak, ra tak jipuk. Gampangane ngono lah reaksi dari salah satu lakon. Jadi gugurlah opsi jaringan instalasi PLC.

Tapi tetap saja mereka mendapatkan beberapa hal yang baru dan menarik dari perkelilingan mereka di ruang PLC yang ber-AC tadi. FAKTA! Sorry sorry sorry jek, ternyata lebih menarik apabila diterangkan oleh seseorang yang menghandle langsung kondisi dan alat di lapangan. Pak Rofik mungkin berdandan seperti seorang karyawan biasa, tapi beliau menyandang posisi supervisor dan itu tidak main-main bung. Cara menjelaskan beliau lugas, jelas, terdepan dan terpercaya, tak seperti stasiun TV swasta yang dengan sangat o’onnya berani meliput berita Merapi dengan modal o’on dengkulan saja. Satu jam saja ku telah bisaaa… belajar dasar PLC, sedikit mengenai jaringannya, dan sistem kontrol analog dan digital yang digunakan untuk mengatur system actuator yang ada. Beberapa yang kami masih familiar dengan apa yang diajarkan di kampus adalah LabView, Fortran, microprocessor z80 1 bit (ya, prosesor satu bit ternyata cukup untuk sebuah perusahaan sebesar Krakatau Steel), dan motor-motor listrik.

LabView dipakai dalam beberapa system di divisi CRM – CTCM Krakatau Steel, interfacing digunakan untuk mengatur card-card buatan National Instruments yang digunakan disini. Mungkin ini akan menjadi bonus pelajaran bagi kami saat berada disini. Fortran sudah tidak dipakai lagi namun sempat dipakai juga. Sedangkan mikro 1 bit tadi? Nostalgia dengan bahasa assembly. “Buat apa pakai mikrokontroller canggih-canggih atau apa kalau yang sederhana sudah handal dan gampang di maintenance?” kata Pak Puguh dan Pak Rofik. Sedangkan untuk bidang elektrikal disini, tentu saja kami masih awam karena berhubungan dengan komponen arus kuat dan tegangan dan arus tinggi pula. Derajat tegangan yang digunakan sampai ribuan kilovolt. Salah demok sithik langsung ucapkan wassalamu’alaikum, bung.

Ada cuplikan percakapan antara Mas Arul dan Kak Jihad dengan Pak Rofik.

Bos Rofik : “Jadi ini.. blablabla bla.. akhirnya tersambung dengan thyristor buat ngatur motor di ruang mesin sana.. blablabla.. ”

Bocah : “ maaf pak, apa? @#$%^&*tor?”

Bos Rofik : “ thyristor, itu lho, SCR..”

Bocah : “ SCR? ” *ketok banget gobloke*

Bos Rofik : “ masa ga tau thyristor sama SCR, ntar kedepannya banyak dipakai lho”

Bocah : “ ….. “ -__-a

FAKTA! Jangan tidur pas kuliah, bung… Inilah akibat kalau kita kebanyakan tidur waktu kuliah dan tidak dong pelajaran. Ojo ngisin-ngisini banget lah, ok?

Setelah tur PLC selesai, kami bergegas pulang, selain sudah menunjukkan waktu 16.15, kami tidak mau ketinggalan bus perusahaan yang mengantarkan karyawan berangkat dan pulang. Bus-bus ini disediakan perusahaan bagi para karyawannya. Bus pada jam 7 pagi akan melewati jalur yang melintasi daerah-daerah yang ada mess karyawannya dan menjemput dan mengantar mereka. Beruntung bagi kami karena kos kami dekat dengan salah satu kompleks mess, jadi sepertinya kedepannya kami tidak harus mengulang kejadian taxi tadi pagi.🙂

Malam harinya kami luangkan jalan-jalan ke Krakatau Junction, sebuah kompleks pertokoan, taman bermain, dan stand-stand makanan bervariasi, dan Kota Cilegon, refreshing yang lumayan. Sepertinya kami akan cukup menikmati hari-hari kami mencari ilmu di kota baja ini.

Sekian dulu dari kami untuk cerita hari pertama lapangan kerja praktek tim Krakatau Steel, mohon maaf jika terlalu banyak seperti dongengnya, jika ada pertanyaan silakan langsung dilontarkan saja bung. Lewat comment ya!

photo-photo amatir bung :

ini pas pulang. baru inget buat foto pas udah keluar pabrik, hebat kan? -___-

fenomena aneh, pekerja pabrik baja beli produk baja, makseude opo jal?

wah, maaf blur.. saya khilaf.. ini bus karyawan PT. KS yang ngasih kami tumpangan, bung..

Krakatau Junction; taman, kuliner, toko, deket kos, alhamdulillah..😀

jihad.

Tagged: , , , ,

§ 8 Responses to Di Balik Gerbang Baja PT. Krakatau Steel

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

What’s this?

You are currently reading Di Balik Gerbang Baja PT. Krakatau Steel at eliners07kp.

meta

%d bloggers like this: